Gallery

Tenun Baduy: Warisan Budaya yang Masih Bertahan

Indonesia memiliki bearagam suku dan budaya menciptakan banyak sekali barang-barang kerajinan yang sering terkait dengan kegiatan-kegiatan adat. Salah satunya adalah kain tenun dari masyarakat Baduy di Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes.

Kain tenun dari Suku Asli Banten ini umumnya berwarna putih dan biru tua. Selain itu, teksturnya juga kasar dan motif sederhana menjadi ciri khas kain yang dibuat dengan cara tradisional ini.

Umumnya proses tenun dilakukan setelah musim panen sebab dimasa-masa tersebut kaum wanita tidak banyak disibukkan untuk mengolah hasil panen dan kaum pria lebih banyak berada di ladang atau sawah. Meski begitu, kegiatan menenun tidak hanya dilakukan oleh wanita dewasa. Mulai dari anak-anak hingga remaja mereka dibiasakan untuk menenun sebagai salah satu cara membunuh waktu.

Hasil tenun kemudian akan digunakan dalam kegiatan-kegiatan adat. Terutama pada suku Baduy dalam yang sangat ketat mengatur perihal pakaian, adat hanya memperbolehkan pakaian terbuat dari kapas dan tidak boleh menggunakan mesin jahit dalam pembuatannya.

 

[Foto dan Teks: Aulia Rachman]

 

Gallery

Buruh Panggul Sunda Kelapa

Bau debu yang menyengat berkelindan dengan panas terik matahari. Puluhan kapal terlihat bersandar. Tepat di depan setiap kapal terdapat truk-truk yang siap untuk di bongkar. Adalah Pelabuhan Sunda Kelapa. Pelabuhan yang sudah ada sejak abad ke-16. Pelabuhan yang aktifitasnya tak pernah berhenti, dari sebuah pelabuhan kerajaan hingga kini menjadi pelabuhan angkutan barang. Pelabuhan yang kemudian menghidupi para buruh panggul.

Otot kawat balung besi, mungkin ungkapan ini cocok disematkan pada mereka, para buruh panggul Pelabuhan Sunda Kelapa. Bagaimana tidak! Tiap hari mereka memanggul puluhan sak semen dari pukul 8 pagi sampai 5 sore, bahkan terkadang hingga malam hari. Meski sekarang mereka dibantu dengan katrol untuk memindah kan sak semen dari truk ke lambung kapal, namun tetap saja, menata bersak-sak semen di bawah panas terik matahari dan pengapnya udara lambung kapal bukan suatu pekerjaan mudah.

Pekerjaan berat nan keras mereka pun dihargai dengan berapa truk yang mampu mereka selesaikan dalam sehari. Setiap buruh panggul mendapat upah 10ribu rupiah/truk, dalam satu hari mereka rata-rata bisa menyelesaikan 5-7 truk. Terbayang berapa rupiah mereka dihargai setiap harinya.

Namun, asap dapur harus tetap mengepul! dan mereka masih harus memangul. Pelabuhan Sunda Kelapa pun menjadi ladang pencaharian sembari terus menanti perbaikan nasib, entah sampai kapan.

 

[Foto dan Teks: Aulia Rachman]