Gallery

Buruh Panggul Sunda Kelapa

Bau debu yang menyengat berkelindan dengan panas terik matahari. Puluhan kapal terlihat bersandar. Tepat di depan setiap kapal terdapat truk-truk yang siap untuk di bongkar. Adalah Pelabuhan Sunda Kelapa. Pelabuhan yang sudah ada sejak abad ke-16. Pelabuhan yang aktifitasnya tak pernah berhenti, dari sebuah pelabuhan kerajaan hingga kini menjadi pelabuhan angkutan barang. Pelabuhan yang kemudian menghidupi para buruh panggul.

Otot kawat balung besi, mungkin ungkapan ini cocok disematkan pada mereka, para buruh panggul Pelabuhan Sunda Kelapa. Bagaimana tidak! Tiap hari mereka memanggul puluhan sak semen dari pukul 8 pagi sampai 5 sore, bahkan terkadang hingga malam hari. Meski sekarang mereka dibantu dengan katrol untuk memindah kan sak semen dari truk ke lambung kapal, namun tetap saja, menata bersak-sak semen di bawah panas terik matahari dan pengapnya udara lambung kapal bukan suatu pekerjaan mudah.

Pekerjaan berat nan keras mereka pun dihargai dengan berapa truk yang mampu mereka selesaikan dalam sehari. Setiap buruh panggul mendapat upah 10ribu rupiah/truk, dalam satu hari mereka rata-rata bisa menyelesaikan 5-7 truk. Terbayang berapa rupiah mereka dihargai setiap harinya.

Namun, asap dapur harus tetap mengepul! dan mereka masih harus memangul. Pelabuhan Sunda Kelapa pun menjadi ladang pencaharian sembari terus menanti perbaikan nasib, entah sampai kapan.

 

[Foto dan Teks: Aulia Rachman]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s