Image

Kalijodo: Dari Ca Bau Kan Hingga RTH

 

Tinung seorang wanita hamil yang menjanda akibat ditinggal mati tak lama setelah resmi menjadi istri kelima Bang Odar. Setelah itu Tinung disingkirkan dengan paksa, berikut dipaksa melepaskan hak-haknya atas warisan dan harta Bang Odar, akibat dari permainan politik antara keluarga Bang Odar dan keempat istri tuanya. Penderitaannya pun diperparah karena kandungannya mengalami keguguran.

Ia akhirnya kembali kerumah orang tuanya, disana ia bertemu dengan sepupunya yang bernama Sodah dan diajak untuk menjadi seorang “Ca-Bau-Kan”. Seorang “Ca-Bau-Kan” yang sering “menghibur” orang Tionghoa pada zaman kolonial Belanda di Indonesia. Ia bekerja sebagai seorang “Ca-Bau-Kan” di suatu tempat yang dinamakan Kalijodo.

Begitulah kira-kira cerita singkat Tinung, tokoh dalam novel Cau-Bau-Kan yang ditulis oleh Remy Sylado yang mengambil setting tempat di kawasan Kalijodo. Dimana tempat tersebut dulunya merupakan persinggahan etnis Tionghoa yang mencari gundik atau selir.

Kini kawasan Kalijodo tak lagi dihuni oleh etnis Tionghoa namun, kawasan tersebut tetap–bahkan lebih banyak–dihuni oleh Tinung-tinung baru dengan latar belakang yang berbeda tentunya.

Namun pada tanggal 14 februari lalu Walikota Jakarta Utara atas instruksi pemprov Jakarta memberikan surat edaran pengembalian fungsi kawasan Kalijodo menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH), dan tawaran bagi warga untuk beralih profesi atau dipulangkan ke daerah masing-masing. Tak ayal warga kalijodo dan para Tinung pun menjadi panik.

Perlahan tapi pasti wisma-wisma tempat Tinung bekerja mulai tutup. Sebagian besar Tinung pun mengepack barangnya dan meninggalakan kawasan Kalijodo. Ditinggalkan pekerjanya, pemilik wisma dengan terpaksa membongkar wismanya. Kawasan Kalijodo yang biasanya “hidup dimalam hari” kini berubah, Kalijodo lebih bergeliat disiang hari seminggu ini.

Tentu kita perlu mengapresiasi tindakan pemprov Jakarta yang berani mengubah kawasan “gemerlap malam” Kalijodo menjadi kawasan terbuka hijau. Karena secara khusus Undang-undang No. 26 Tahun 2007, mengamanatkan perlunya penyediaan dan pemanfaatan RTH, yang proporsi luasannya ditetapkan paling sedikit 30 (tiga puluh) persen dari luas wilayah kota. Sedangkan Jakarta baru sekitar 9 persen.

Tetapi permasalahannya tak sesederhana itu, setelah mereka dibuyarkan permasalahan baru akan muncul. Tinung-tinung ini tak lagi memiliki tempat, itu artinya mereka akan berkeliaran dijalan dan pemerintah akan semakin susah mengontrol penyebaran virus HIV/AIDS. Padahal sebanyak 101 Tinung dari 220 Tinung yang melakukan pemeriksaaan positif mengidap HIV/AIDS. Lalu muncul pertanyaan apakah penggusuran ini merupakan solusi terbaik?

 

[Foto dan Teks: Aulia Rachman]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s