Image

Mengintip Tempat Rehabilitasi Anjing Liar

Sejak 12 tahun lalu, Jakarta ditahbiskan sebagai kota bebas rabies sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Pertanian No 556 Tahun 2004. Pemprov DKI Jakarta pun dituntut selalu siaga tidak hanya mengantisipasi, tetapi juga bertindak agar predikat tersebut tidak sekadar label pemanis Ibu Kota.

Karena hewan liar dinilai merupakan penyebab utama rabies, mau tidak mau, harus ada tindakan nyata mengantisipasinya. Selama ini Dinas Kelautan, Perikanan, dan Ketahanan Pangan DKI Jakarta memilih mengandalkan strategi sterilisasi.

Dikawasan Timur Jakarta terdapat sekumpulan relawan pecinta binatang yang menamakan dirinya Jakarta Animal Aid Network (JAAN). Lokasinya tak seberapa jauh dari kompleks Kopassus. Bangunan serta pekarangan seluas sekitar tiga hektar tersebut dimanfaatkan sebagai kantor dan pusat rehabilitasi anjing liar.

Demi mendukung program pemerintah mereka merawat setidaknya sekitar lima puluhan anjing liar dengan sukarela. Diantara lima puluhan anjing tersebut sebagian dibiarkan berkeliaran dengan bebas di pekarangan rumah. Sebagian lagi terisolasi dalam kandang.

Glen, salah satu perawat anjing disana mengatakan biasanya anjing yang berada di dalam kandang adalah yang baru datang dan belum mampu beradaptasi bersama anjing-anjing lainnya. Hal itu untuk menghindari pertengkaran yang bisa membahayakan anjing-anjing lainnya. Glen pun memastikan bahwa seluruh anjing yang dirawat disana telah melalui proses sterilisasi dan vaksinasi.

Lebih lanjut Glen menjelaskan, setiap anjing liar yang datang–berhasil diselamatkan dari jalanan–akan dikarantina untuk kemudian diperiksa dan dilakukan proses pengobatan. Anjing yang telah steril dan “jinak” dibiarkan bebas berkumpul bersama anjing-anjing lainnya dan menunggu untuk diadopsi. Pengadopsi anjing biasanya tak hanaya datang dari dalam negeri. Warga Kanada, Belanda hingga Jerman pernah mengadopsi anjing dari tempat tersebut.

Kini, sekitar lima puluh anjing tersebut menunggu pengadopsi yang mau merawat sebagian dari mereka dengan kasih sayang. Meski sebagian dari anjing-anjing itu merasa lebih nyaman berada di tempat tersebut. Seperti Boy (nama salah satu anjing) yang pernah beberapa kali diadopsi, sempat tidak mau makan selama seminggu. Pada akhirnya pengadopsi terpaksa mengembalikan Boy dan dia kembali makan dengan lahap di tempat lamanya.

 

[Teks dan Foto: Aulia Rachman]